Kisah Pembuka 2019-ku

Karena bingung ingin meluapkan pikiran dan perasaan hati hari ini kepada siapa dan bagaimana caranya, maka aku menulis ini untuk berbagi rasa.

Silahkan ambil pelajaran dan manfaatnya, buang mudharat dan hal negatifnya. Jadilah pembaca cerdas yang tidak hanya membaca, mengkritisi dan menghujat, tetapi yang mampu membaca, memahami, mempelajari dan menyimpulkan secara penuh dan menyeluruh.


Selamat membaca. Semoga bermanfaat.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sepeninggal Pak (I) yang harus melanjutkan studinya, yang beliau menjabat sebagai kepala bagian di unit ini, maka terjadi sedikit perubahan pada susunan struktural jabatan yang digantikkan posisinya oleh Pak (Z). Hingga akhirnya aku direkrut dan ikut bergabung di dalamnya di bawah pimpinan Pak (A). Aku dipercaya untuk masuk ke dalam hampir seluruh dinamika unit kerja ini, dan pada kemudian, aku dipercayakan untuk tugas pokok membantu satu bidang dan sedikit membantu bidang yang lain. Hal yang selalu ku ingat saat pertama kali diajak dan kemudian bergabung dengan unit ini adalah kalimat singkat Pak (A), “Kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga unit ini, unit kita.” Dari kalimat singkat itu, aku menjabarkan sendiri arti keluarga yang beliau katakan. Dalam keluarga, kita bersama-sama harus siap dengan segala hal yang terjadi dan berkomitmen untuk dapat menyelesaikan setiap masalahnya. Sebagai kesatuan dalam keluarga, berarti kita harus berani menanggung suka-duka, resiko dan sebab-akibat bersama. Dalam keluarga, sikap saling menghargai pendapat, bersikap toleran, tolong-menolong dalam kebaikan adalah kunci penguat kekompakan. Entahlah, apakah definisiku benar untuk menafsirkan kalimat singkat itu atau sebaliknya. Aku hanya memiliki kesimpulan bahwa apapun yang kemudian berjalan dan terjadi harus mampu dihadapi dan diselesaikan secara bersama sebagai satu keluarga, keluarga di satu unit kerja.
Seiring berjalannya waktu, pengalaman, pengetahuan dan perkembangan aku dapatkan dengan suasana yang cukup nyaman. Hingga akhirnya Pak (A) juga harus melanjutkan studi dan pimpinan manajerial unit mengalami perubahan, dikepalai dan dilanjutkan oleh Pak (G).
Problematika pekerjaan adalah tantangan yang selalu ada dan harus siap dilalui dan diselesaikan oleh sektor pekerjaan apapun. Tentu saja, langkah yang tepat untuk menghadapi problematika kerja tersebut sangat perlu dilakukan agar terwujud perkembangan, perbaikan dan kemajuan tempat kerja kita dengan berpedoman sesuai dengan aturan dan kebijakan yang diberlaku. Dalam mengambil tindakan dan kebijakan, setiap pimpinan memiliki kharakteristik gaya kepemimpinan yang berbeda dan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Perbedaan karakter, watak dan sifat rekan kerjapun memang sudah semestinya dimaklumi dan diketahui oleh seluruh warga unit kerja sehingga tidak mengurangi kerjasama tim dan kekeluargaan dalam lingkungan kerja.
Pembelajaran, petuah dan pengalaman dalam bekerja yang aku dapatkan dari kedua pimpinan di atas, baik yang terdahulu maupun yang kemudian sangat aku hargai, aku pelajari dan aku aplikasikan sampai dengan sekarang. Pak (G) dengan gaya kepemimpinan yang santai namun cekatan dan enerjik mampu menghidupkan semangat kami dalam mengejar deadline pekerjaan dan tidak sungkan untuk turun tangan langsung membantu pekerjaan bawahannya.
Di unit ini aku mendapatkan banyak hal, tidak hanya melulu dengan ilmu manajemen waktu dan administrasi tetapi juga pentinganya etika dan adab dalam bersikap. Pak (AR) yang mungkin terkesan seorang yang cuek dan royal, adalah pribadi yang sangat menghormati orang tua dan atasan. Jika ada dari kami yang kurang sopan dalam bersikap dan sopan santu, beliau selalu mengingatkan, “Dahulukan adab, baru kemudian ilmu. Percuma memiliki ilmu dan jenjang pendidikan yang tinggi, kalau tidak memiliki adab terhadap atasan terlebih kepada orang yang lebih tua.” Pun, dengan Pak (B) dan Bang (E) yang sepakat dengan hal tersebut, selain adab atau etika di dunia kerja, rasa penat dan keluhan baiknya dinikmati tanpa mengeluh tiada arti dan pentingnya memperbanyak syukur dan sabar. Karena pada setiap prosesnya, selalu ada hikmah dan pembelajaran yang akan didapat.
Selain tentang etika dan adab, di unit ini aku banyak mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru yang aku dapatkan secara cuma-cuma. Satu contoh misalnya, saat aku dan Pak (Z) sedang tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan, kami membicarakan isu-isu terhangat yang sedang terjadi; baik itu tentang judul film baru, teori Karl Marx, pergerakan komunis, hingga isu-isu politik paling up-to-date. Pada saat kami mendiskusikan hal-hal itu, selanjutnya aku seketika menjelma menjadi seorang mahasiswa (lagi) yang sangat antuasias mendengarkan beliau yang bersemangat menyampaikan berbagai teorinya, berikut penjabaran dan ulasan singkat, berbagai pendapat ahli dan kesimpulan beliau mengenai hal tersebut sampai kemudian melanjutkan minat bacaku dengan meminjam bukunya secara cuma-cuma untuk menuntaskan rasa keingintahuanku lebih lanjut atas apa yang telah beliau sampaikan. Aku menikmati momen-momen itu, karena aku merasa mendapatkan pengetahuan baru yang aku buta sebelumnya dan pengetahuan baru itu sebagai penghibur jengahku pada suatu pekerjaan.
Pada yang lainnya, tidak sedikit berbeda dengan Bapak-bapak sebelumnya, dari Bapak satu ini, Pak (S) aku banyak sekali mendapat pelajaran yang sangat berharga, khususnya di bidang pekerjaan. Beliau adalah yang paling lama di unit ini. Yang paling mengerti bahkan di setiap bagian unit kami. Beliau adalah orang yang selalu mengingatkanku untuk tidak sering mengeluh, bersabar, ulet, teliti, ikhlas dan totalitas dalam bekerja. “Lelah itu manusiawi, tetapi saat dipercayakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan, maka lakukan itu dengan sepenuh hati. Maka banyak dan bertumpuknya pekerjaan adalah bukan menjadi beban tetapi nikmat dalam pekerjaan.” Kalimat itu tidak ku dapatkan dari ujarannya, tetapi dari caranya menuntaskan pekerjaan dengan tidak banyak berbicara dan membuang waktu. Seolah seluruh waktunya beliau gunakan untuk menuntaskan pekerjaan yang harus segera beliau selesaikan. Beliau tidak pernah sedikitpun merasa kelelahan dan mengeluarkan keluhan meskipun lembur 3-4 hari untuk menyelesaikan pekerjaan di bagiannya sendirian. Hanya sesekali meminta bantuan kepada 1-2 mahasiswa sebagai volunteer untuk meringankan pekerjaannya.
Hampir satu tahun setengah aku bergabung di unit ini, banyak hal yang aku dapatkan baik secara individu dang anggota tim dalam suasana kekeluargaan. Meskipun tidak jarang terdapat perbedaan pendapat, perselisihan, dan tantangan pekerjaan, tetapi hal-hal tersebut tidak sama sekali menciptakan percikan permusuhan yang sengit di unit ini. Justru kemudian, terbentuk rasa kerjasama yang memang harus terus dipupuk dan diciptakan bersama sebagai penguat kerjasama dan kekompakan tim unit kerja. Seiring berjalannya waktu, aku secara pribadi merasakan ikatan emosional kekeluargaan yang terjalin di dalamnya. Sebagai rumah keduaku, aku mendapatkan rekan kerja tim plus pengalaman berharga, ilmu yang baik, pengetahuan yang bermanfaat dan petuah luar biasa yang mungkin tidak aku dapatkan di tempat lain dan ini sangat berharga dan menjadi bekal pelajaran yang bisa ku ambil dan ku aplikasikan di tempat lain; baik di masyarakat maupun di lingkup yang lebih besar lainnya.
Di unit ini, hanya aku yang merupakan karyawan wanita, sehingga akulah yang paling emosional (paling baper), dan moody. Tetapi hal tersebut tidak menjadi hal buruk dan pemecah kekompakan tim. Justru aku merasa dimaklumi, tetap dibimbing dan dirangkul bersama. Ini yang membuatku merasa lebih dekat baik secara individu, tim dan keluarga dengan para oknum di dalamnya. Aku merasa menjadi adik paling kecil yang selalu mendapat hal baru dari kakak-kakak yang tidak pelit dalam berbagi, membimbing dan mengarahkanku untuk disiplin melakukan dan menyelesaikan hal yang terkadang sulit untuk ku lakukan. Hingga akhirnya, hari ini aku benar-benar merasa kehilangan. Aku sedang tidak berpura untuk bersikap berlebihan (lebay), aku hanya mencoba untuk mendeskripsikan apa yang tengah aku rasakan dan menjelaskan apa yang sedang berkecamuk dalam pikiranku dan menuangkannya dalam kata-kata yang mungkin bisa mewakilinya.

Hari ini, nama Pak (Z) dan Pak (S) terdapat dalam Surat Keputusan pindah tugas ke unit lain dan tugas mereka di unit kami akan digantikan dengan yang lain. Aku tidak akan membicarakan kesanku dengan pengganti mereka (dan biarkan itu menjadi privasiku), karena kali ini aku hanya ingin menceritakan kisahku bersama mereka. Rasa kehilangan yang sedang aku alami mungkin akan berlangsung sesaat, karena tumpukan pekerjaan menanti untuk diselesaikan sehingga membuatku lupa dengan kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan dengan rekan kerja yang sudah 1,5 tahun membersamai ( Ya, lagi-lagi mungkin karena aku satu-satunya wanita, yang memiliki tingkat kebaperan paling tinggi diantara yang lain. Aku hanya merasa benar-benar kehilangan 2 (dua) rekan kerja yang selama ini paling dekat denganku dalam bekerja. Ungkapan terimakasih dan ujaran maaf tidak aku ucapkan karena aku menahannya. Aku takut dan malu jika mengatakannya aku pasti menitikkan air mata. Jangankan untuk mengungkapkannya dengan kata, menuliskannya sekarangpun aku dengan bersusah payah menahan agar tidak menjatuhkan bulir-bulir air di pipi. Ah, baper banget. Cuma pisah unit doang, lebay. Guys, you never know how hard this to be described. More than a year I knew them and memorized their habit at our office.You just see, not feel. You just read, not as theactor in this story at the moment. Well, whatever you’ll say, I keep writting what I felt.

Semoga segala kebaikan yang telah dibagikan kepadaku melalui kalian diberikan balasan yang lebih baik dari-Nya. Semoga apa yang telah dan akan kita dapatkan di unit kerja yang lama dan yang baru mampu menjadikan kita lebih baik, produktif dan terus berkembang. Aamiin.


Aku akan rindu dengan diskusi berat yang sangat ku nikmati retorika penyampaiannya meskipun kadang terhenti dengan beberapa tamu dan bahasan pekerjaan yang tiba-tiba datang. Aku akan rindu betapa menyebalkannya merapikan berkas-berkas berserakan yang setelah ku rapikan akan selalu berantakan lagi dan lagi seolah tidak ada kata rapi di atas meja kami. Aku akan rindu betapa kompaknya kami mem-bully satu sama lain dengan cara tidak lazim dan kadang menjadi boomerang bagi diriku sendiri untuk kemudian menjadi bahan bully-an. Aku akan rindu menjadi yang paling kecil dan kurus pada formasi itu. Terlebih lagi, aku akan rindu dengan kekompakanku bersama pasukan Bapak-bapak bertubuh makmur berperut buncit di dalamnya. (Semoga beberapa kalimat terakhirku itu tidak membuatku dipecat karena memasukkan unsur tidak menyenangkan pimpinan dan rekan kerjaku. HAHA. Karena well, sekali lagi aku hanya mencoba mendeskripsikan apa yang aku rasakan saat ini; suka-duka saat berlibur dan berkerja bersama hingga kesedihan saat ini).
Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih banyak belajar dan meningkatkan diri menjadi yang lebih baik lagi. Aamiin yaa Robbal Alamiin.

Palangka Raya, 02 Januari 2019

Komentar